SuaraMalang.id - Sebagian besar wilayah Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur dilanda suhu dingin, khususnya pada pagi dan malam hari. Fenomena tersebut berlangsung sepekan terakhir.
Fenomena suhu udara dingin tersebut dikenal dengan nama fenomena bediding, di dataran rendah suhu berkisar antara 22 derajat celsius hingga 30 derajat celsius, sedangkan di dataran tinggi berkisar 20 hingga 22 derajat celsius.
Fenomena bediding biasa terjadi pada bulan Juli, Agustus, awal September yang menandakan musim kemarau telah tiba.
Berdasarkan keterangan Prakirawan BMKG Banyuwangi, Fredy Tri Kurniawan, fenomena bediding dipicu adanya pola tekanan udara yang relatif tinggi di Australia menyebabkan pergerakan massa udara dari Australia menuju Indonesia atau dikenal dengan istilah monsoon dingin Australia.
Baca Juga: Pengawasan Jadi Kunci Turunkan Kasus Kekerasan pada Anak di Banyuwangi
Selain datangnya udara dari Australia yang memiliki suhu relatif dingin tersebut, kondisi cakupan awan juga tidak begitu tebal.
"Suhu dingin ini biasa disebut bediding. Bediding sendiri ini adalah fenomena yang disebabkan oleh minimnya cakupan awan. Karena cakupan awan di atas sedikit akibat masuknya udara dari Australia yang sifatnya kering dan dingin, maka panas matahari yang biasanya ditahan oleh awan, akan langsung lepas ke atmosfer kembali, jadi tidak ada yang ditahan di Bumi," kata Fredy, Selasa (26/7/2022).
Menurut Fredy, posisi awan ibarat selimut bagi bumi, awan memiliki fungsi menahan uap air dan panas dari bumi akibat sinar matahari, dan jika komposisi awan di atas minim bahkan tidak ada, maka suhu panas akan langsung kembali menuju angkasa, sehingga suhu di bumi terasa dingin.
"Ketika siang hari matahari akan memanaskan dan menghangatkan bumi, setelah itu akan melepaskan panasnya kembali, maka kalau tertahan ke awan maka panasnya akan kembali lagi ke bumi. Karena sekarang sudah masuk musim kemarau dan selimutnya ini minim, maka panas akan kembali ke atmosfer," ungkapnya.
Sementara itu, salah satu warga Desa Tamansari, Kecamatan Licin, Zulfan Maulana bercerita jika suhu di Desanya sangat dingin, terutama di pagi dan malam.
Baca Juga: 170 Petenis dari Berbagai Provinsi Ikuti Banyuwangi Open Yunior Tenis Tournament
Desa Tamansari sendiri merupakan desa terletak di lereng gunung ijen, yang merupakan salah satu kawasan di dataran tinggi, dalam beberapa pekan terakhir warga di sekitar kawasan tersebut terus merasakan hawa dingin.
Berita Terkait
-
Film Horor 'Pembantaian Dukun Santet' Diangkat dari Thread Viral, Ini Ceritanya!
-
Selain Ketupat, Ini 4 Tradisi Lebaran yang Masih Hidup di Banyuwangi
-
Dulu Calon Bintang Timnas Indonesia, Jagoan Indra Sjafri Malah Ditendang Klub Kasta Terbawah
-
Kronologi Penolakan Film Lemah Santet Banyuwangi, MD Pictures Tarik Materi Promosi
-
Film Lemah Santet Banyuwangi yang Mengangkat Kisah Nyata di Tahun 1998
Terpopuler
- Kode Redeem FF SG2 Gurun Pasir yang Aktif, Langsung Klaim Sekarang Hadiahnya
- Pemain Keturunan Indonesia Statusnya Berubah Jadi WNI, Miliki Prestasi Mentereng
- Pemain Keturunan Indonesia Bikin Malu Raksasa Liga Jepang, Bakal Dipanggil Kluivert?
- Jika Lolos Babak Keempat, Timnas Indonesia Tak Bisa Jadi Tuan Rumah
- Ryan Flamingo Kasih Kode Keras Gabung Timnas Indonesia
Pilihan
-
Masjid Agung Sleman: Pusat Ibadah, Kajian, dan Kemakmuran Umat
-
Ranking FIFA Terbaru: Timnas Indonesia Meroket, Malaysia Semakin Ketinggalan
-
Duel Kevin Diks vs Laurin Ulrich, Pemain Keturunan Indonesia di Bundesliga
-
Daftar Lengkap 180 Negara Perang Dagang Trump, Indonesia Kena Tarif 32 Persen
-
Detik-detik Jose Mourinho Remas Hidung Pelatih Galatasaray: Tito Vilanova Jilid II
Terkini
-
BRI Raih Penghargaan Internasional Atas Prestasi Wujudkan Pertumbuhan Ekonomi yang Bertanggung Jawab
-
Petasan Lukai Pemiliknya di Malang, Korban Sampai Harus Dioperasi
-
Bos BRI: Keamanan dan Kenyamanan Nasabah Jadi Prioritas Utama
-
Volume Kendaraan di Tol Singosari Meningkat, Ini Tips Berkendara Aman yang Harus Dilakukan
-
Program BRI Menanam "Grow & Green Diwujudkan di Gili Trawangan, Gili Air, dan Gili Meno