Scroll untuk membaca artikel
Abdul Aziz Mahrizal Ramadan
Selasa, 14 September 2021 | 17:10 WIB
ilustrasi banjir, Level Siaga Cuaca Ekstrem, Jawa Timur Berpotensi Banjir dan Tanah Longsor. [ANTARA/Laily Rahmawaty]

Sifat hujan selama musim hujan 2021/2022 diprakirakan normal atau sama dengan rerata klimatologisnya pada 244 ZOM (71,4 persen), sejumlah 88 ZOM (25,7 persen) akan mengalami kondisi musim hujan atas normal (lebih basah dari biasanya) dan 10 ZOM (2,9 persen) akan mengalami musim hujan di bawah normal.

Selain itu, Fenomena Madden Julian Oscillation (MJO), gelombang Rossby Ekuatorial, dan gelombang Kelvin terpantau aktif di wilayah Indonesia hingga sepekan ke depan. MJO, gelombang Rossby Ekuatorial, dan gelombang Kelvin adalah fenomena dinamika atmosfer yang mengindikasikan adanya potensi pertumbuhan awan hujan dalam skala yang luas di sekitar wilayah aktif yang dilewatinya.

Fenomena MJO dan gelombang Kelvin bergerak dari arah Samudra Hindia ke arah Samudra Pasifik melewati wilayah Indonesia dengan siklus 30-40 hari pada MJO, sedangkan pada Kelvin skala harian. Sebaliknya, Fenomena Gelombang Rossby bergerak dari arah Samudera Pasifik ke arah Samudra Hindia dengan melewati wilayah Indonesia.

Sama halnya seperti MJO maupun Kelvin, ketika Gelombang Rossby aktif di wilayah Indonesia maka dapat berkontribusi pada peningkatan pertumbuhan awan hujan di beberapa wilayah indonesia. Selain itu, terbentuknya belokan maupun pertemuan dan perlambatan kecepatan angin (konvergensi) dapat mengakibatkan meningkatnya potensi pertumbuhan awan hujan di beberapa wilayah Indonesia.

Baca Juga: Prakiraan Cuaca Sulawesi Barat Rabu 15 September 2021, Ada Hujan Disertai Petir

Suhu muka laut dan anomali suhu muka laut juga terpantau masih hangat di sebagian besar perairan di Indonesia yang mendukung peningkatan suplai uap air sebagai sumber pembentukan awan-awan hujan. Kondisi tersebut juga didukung oleh masih tingginya kelembaban udara di sebagian besar wilayah di Indonesia hingga sepekan ke depan.

Hujan es

Ilustrasi suhu dingin, hujan es. [Pixabay/Myriams-Fotos]

Hal itu juga mempengaruhi prakiraan tinggi gelombang dengan area perairan dengan gelombang tinggi (2,5-4 m) yakni perairan utara Pulau Sabang, perairan barat Aceh hingga Kepulauan Nias, Perairan Kepulauan Natuna, Laut Natuna, Selat Bali - Lombok - Alas - Selat Sape bagian selatan, Selat Sumba bagian barat, Perairan Pulau Sumba, Laut Sawu, Perairan Kupang - Pulau Rotte, Samudra Hindia selatan NTT, Perairan selatan Kepulauan Tanimbar, Perairan selatan Kepulauan Kei - Aru, Laut Arafuru

Kemudian area perairan dengan gelombang sangat tinggi (4,0 - 6,0 m) di Perairan barat Mentawai, Perairan Enggano - Bengkulu, Perairan barat Lampung, Selat Sunda bagian barat dan selatan, Perairan selatan Jawa hingga Pulau Sumbawa, Samudra Hindia barat Mentawai hingga selatan NTB. Informasi gelombang lebih detail di https://maritim.bmkg.go.id/.

Kemudian prediksi Awan Cumulonimbus dengan persentase cakupan spasial maksimum antara 50-75% (OCNL,Occasional) selama tujuh hari ke depan diprediksi terjadi di Sebagian Aceh, sebagian Sumatra Utara, sebagian Laut Natuna, perairan barat Sumatra Barat sampai Bengkulu.

Baca Juga: Prakiraan Cuaca Wilayah Sulawesi Selatan Rabu 15 September 2021

Lalu, sebagian Sumatra Barat, sebagian Bengkulu, pesisir barat Lampung, Sumatra Selatan, sebagian Lampung, sebagian Kepulauan Bangka Belitung, Laut Jawa, Samudra Hindia selatan Jawa bagian barat, sebagian Banten, sebagian Jawa Barat, debagian Jawa Tengah.

Load More